BANDUNG, (GN)-Mengikuti trend zaman sekarang, beberapa pengusaha mengeluarkan modal selangit untuk menerapkan tema Retro di kafe mereka. Namun hal itu tidak berlaku di kafe Trotoart. Daripada mengeluarkan setumpuk uang, Kafe sekaligus Beer House ini lebih memilih untuk memanfaatkan barang-barang rongsokan sebagai bahan Retro mereka. Jangan … Continue reading Beer House Trottoart: Dekor ala Retro dengan Modal Zero.
Gambar: Kios tempat menjajakan Tahu Sumedang Sukaati
“Bau harum kotak-kotak coklat itu menyeruak mengisi ruangan, menciptakan suara renyah ketika diserbu oleh mulut-mulut preman dan masyarakat yang kelaparan di pagi hari. Beberapa orang lain berdatangan, lalu berkata: “Tolong beli Tahu Sumedang-nya 100 biji.”
Tempatnya kecil jika dibandingkan dengan pabrik tahu lainnya. Bahkan jika tidak ada yang berjalan sampai kedalam, tempat yang berada di Jalan Sukaati Raya No.13, Pasirluyu, Regol, Bandung itu hanya akan terlihat seperti rumah biasa yang mempunyai tampilan pas-pasan. Satu-satunya tanda bahwa bangunan itu adalah pabrik utama dari Tahu Sumedang yang melegenda, adalah Spanduk bertuliskan “Tahu Sumedang Sukaati” yang tergantung di depan rumah, dan juga harum semerbak berasal dari tahu Sumedang yang baru keluar dari penggorengan.
(Gambar: Para Pekerja sedang memproses pembuatan Tahu Sumedang Sukaati dari bahan utama kacang kedelai)
Siapa sangka, aktivitas orang-orang yang berteduh di bangunan putih itu, bahkan sudah dimulai saat sinar matahari belum menyentuh bumi. Dari jam tiga subuh, para pengrajin Tahu Sumedang Sukaati itu sudah berpeluh. Kepala keluarga, sampai adik termuda, semua bergerak melakukan tugasnya masing-masing dengan seirama. Beberapa dari mereka menyambut para pelanggan yang bermunculan dari jam 07.00 pagi sampai sore menyingsing dengan senyuman sehangat Tahu Sumedang yang mereka hidangkan. Beberapa lagi berpeluh di pabrik mengaduk-aduk cairan kacang kedelai sampai mulai mengental.
Bapak tua pemilih pabrik Tahu Sumedang Sukaati yang sederhana itu bernama Jusup. Seorang mantan dosen dari suatu perguruan tinggi paling ternama di Bandung. Pagi itu Ia memulai tugasnya dengan mengenakan kaus hitam berlengan panjang bertuliskan “Tahu Sumedang Sukaati” di depan nya, celana kain batik, dan Iket Sunda yang melingkar di kepala nya.
Gambar: Bapak Jusup kepala keluarga sekaligus pemilik Perusahaan Keluarga Tahu Sumedang ‘Sukaat’
Bapak kelahiran asli di Sumedang itu sudah berhasil mempertahankan pabrik tahu nya sampai tiba di generasi keempat. Ia berhasil membawa perusahaannya menjadi salah satu dari 20% pengusaha pribumi yang mampu bertahan lebih dari dua generasi.
“Hidup itu pilihan. Alasan mengapa saya bisa menjalankan pabrik ini sampai ke generasi yang keempat adalah karena saya menjalankan konsep modern, dengan pelaksanaan yang sederhana.”
Dan konsep modern dengan pelaksanaan yang sederhanalah yang keluarga itu lakukan.
Konsep modern yang ia terapkan adalah, konsep bahwa semua hal dapat dijadikan bahan berguna. Dari ampas tahu, ia jual dengan harga Rp. 4000 perkarung kepada para peternak yang ingin memberi makan domba-dombanya. Dari bekas minyak, ia ciptakan bio-solar untuk menghasilkan uang tambahan. Kacang kedelai tidak disimpannya didalam gudang, melainkan dengan memesannya langsung kepada pemasok. Karena itu ia tidak perlu takut kacang kedelai nya memakan banyak tempat atau membusuk sehingga membuat uangnya terbuang sia-sia.
Gambar: Bahan Kedelai yang direbus hingga diaduk sampai mengental
Pelaksanaan sederhana, adalah dengan melakukan semua dengan sederhana tentunya. “Tidak ada job task,” sembur bapak tua yang garis senyumnya terlihat jelas. “Saya tidak pernah mengatakan apa yang harus mereka lakukan.” Ia hanya memanfaatkan ketekunan dan keahlian dari masing-masing anggota keluarganya yang ia perhatikan sejak awal.
Dengan keahlian istrinya dalam “mencicipi” kualitas dari kacang kedelai, mereka bisa menemukan dan mempertahankan kualitas dari Tahu Sumedang Sukaati itu. “Itu adalah bakat. Susah untuk dikuasai.” Bapak Jusup mendemonstrasikan ketika istrinya mengigit kacang kedelai untuk memeriksa kualitas kacang itu.
Namun, Bagaikan tidak bisa lepas dengan tugasnya sebagai ibu yang mengatur pengeluaran rumah tangga, Sulastri (53), Ibu dari kedua anak itupun tidak bisa lepas dari kewajibannya mengatur segala pengeluaran dan pemasukan produk. Ialah yang mengawasi, memikirkan, dan memutar otak ketika perubahan harga terjadi. Terutama jika penaikan dan penurunan harga itu mempengaruhi Kacang kedelai yang mereka dapatkan dari luar negeri. “Pernah pada saat yang lalu (Periode lalu), saat harga dolar naik, kacang kedelai pun naik. Dari Rp. 4000 (perkilo) sampai Rp. 7000 (perkilo). Kelabakan kan kita?” tutur Sulastri ketika mengingat periode dahulu lagi.
Gambar: Para pembeli didepan kios Tahu Sumedang Sukaati
Ketekunan istrinya dalam mengatur pengeluaran dan bahan produksi juga merupakan alasan mengapa perusahaan ini dapat bertahan. Bapak Jusup sudah mempersiapkan hal ini dari awal. Anak pertamanya yang seorang ahli kimia, dan adiknya yang seorang pebisnis handal, sudah dipersiapkan pula untuk terus dapat menopang pabrik ini agar terus berdiri.
“Pabrik ini tidak akan lanjut jika tidak ada pewaris yang melanjutkan.” Itulah kunci mengapa Bapak Jusup sampai sekarang bisa mempertahankan perusahaanya sampai generasi keempat. Ia menjelaskan dengan bangga, bahwa ia sudah mempersiapkan para pewaris, yaitu kedua anaknya, untuk mewarisi perusahaan keluarga tersebut. Dan baik anaknya walaupun seluruh keluarganya, sampai kapanpun tidak akan ragu-ragu untuk memegang gelar sebagai seorang penjual Tahu Sumedang Sukaati.
Gambar: Anak pertama Bapak Jusup yang sedang memotong tahu mentah
“Saya memang penjual tahu, tapi anak saya (menunjuk pria yang sedang memotong-motong tahu mentah) adalah dosen ahli kimia di ITB kelas Internasional. Beliau lalu menambahkan dengan lembut “Bagi saya, yang penting merasa cukup.”
Itulah mengapa, seberapa banyak pun potensi yang dapat dihasilkan dari pabrik Tahu Sumedang Sukaati itu, sesering apapun beberapa orang datang untuk berinvestasi di pabrik itu: Bapak Jusup yang seorang mantan dosen, Ibu Sulastri yang ahli mencicipi kacang kedelai, dan anak-anaknya yang seorang dosen dan pebisnis hebat, tetap tidak melangkah terlalu jauh.
Namun, mampu menjadi salah satu dari 20% perusahaan pribumi yang dapat bertahan lebih dari 2 generasi. (Ghina)
(Gambar: Para Pekerja sedang memproses pembuatan Tahu Sumedang Sukaati dari bahan utama kacang kedelai)
Bandung-Perbedaan dari pengaruh kepemimpinan periode 5 tahun yang lalu dan sekarang benar-benar dirasakan oleh para pengrajin Kacang Kedelai. Pasalnya, di periode dahulu, ketika US dolar naik, harga kacang kedelai yang diimport pun ikut melonjak hingga Rp. 7000 rupiah perkilo dari harga sebelumnya Rp.5000 rupiah perkilo. Hal tersebut sontak membuat para pengerajin kewalahan.
Namun, berbeda dengan periode sekarang. Ketika US dolar naik, harga kacang kedelai dipasaran pun tetap stabil. Hal ini membuat para pengerajin yang menggunakan pemasukan dari negara lain tidak harius kewalahan seperti di periode dahulu. Hal ini serupa dengan apa yang dilontarkan oleh salah satu pemilik perusahaan tahu sumedang Sukaati. Beliau menjelaskan memang ketika dolar sempat naik, mereka sudah cemas akan harga kedelai yang akan melonjak. Namun, mereka lega ketika di periode sekarang, hal itu tidak terjadi.
“Tapi waktu dolar naik, kacangnya ga naik.”
Lalu ketika pemilik tersebut ditanya alasannya, beliau hanya menjawab “Itulah kehebatan Jokowi.” Dengan diiringi nada bercanda.
“Pernah pada saat yang lalu (Periode lalu), saat harga dolar naik, kacang kedelai pun naik. Dari Rp.4000 (perkilo) sampai Rp.7000 (perkilo). Kelabakan kan kita?” tutur Sulastri pemilik perusahaan itu ketika mengingat periode dahulu lagi.
“Sempet panik (pada saat US dolar naik). Sekarangmah distabilkan aja sama pemerintah.”
Beliau mengaku alasan nya memakai kacang kedelai import adalah karena kurangnya pemasokan dari Indonesia sendiri. Namun di Indonesia sendiri kacang kedelai memang menjadi salah satu bahan pokok untuk membuat makanan umum di Indonesia. Seperti tahu dan tempe.
“karena kalau kacang kedelai itu makanan pokok orang indonesia. Kalau dengan harga tinggi, masyarakat indonesia susah. Karena itu harga kacang kedelai itu oleh pemerintah selalu ditekan. Ga pakai berat cukai..” terang Sulastri (53).
Pada tahun 2018, seperti yang telah di beritakan oleh Tempo.com, harga kacang kedelai memang sempat naik menjadi Rp.7500. Namun sebetulnya, Kata Enggrtiasto, pemerintah telah menjalin kerja sama soal kedelai dengan Amerika serikat. Belum lagi para distributor, importir, hingga penjual kedelai, kata Enggartiasto (Menteri Perdagangan), sudah berjanji untuk tidak seenaknya menaikkan harga kedelai dengan pendekatan nilai tukar.
Penurunan Harga Telur sampai Naiknya harga Cabe Rawit di Pasar Rancabentang.
(Suasana di pasar Rancabentang pada pagi hari. Bandung, 2 maret 2019)
Pagi hari tepatnya pada tanggal 2 Maret 2019 terjadi penaikan sekaligus penurunan harga pada beberapa bahan pokok di pasar yaitu pasar Rancabentang. Menurut beberapa warga yang berbelanja disana sekaligus pernyataan sebagian para penjual, harga bahan pokok yang mengalami kenalikan adalah. Harga cabai rawit dipasar mengalami kenaikan harga.
“Kalau yang paling naik paling cengek (cabe rawit). ” Penjual tersebut mengatakan kenaikan harga tersebut mungkin disebabkan oleh keadaan cuaca. Namun ia menambahkan tidak ada lagi kenaikan harga yang tinggi selain cabe rawit. ”Mungkin karena cuaca. Tidak tahu sih. Tapi sayur dan yang lain biasa-biasa saja.” Jelas salah satu pedagang di pasar Rancabentang itu setelah ditanya soal kenaikan harga cabe rawit tersebut.
Hal ini bertolak belakang dengan harga telur ayam yang mengalami penurunan harga. Seorang pedagang menjelaskan bahwa harga telur ayam telah turun sekitar 4000 rupiah dari harga asal 27.000 rupiah menjadi 23.000 rupiah per kilo. Penurunan ini sudah berlangsung sekitar seminggu. Pembeli tersebut menjelaskan bahwa hal ini menyebabkan pendapatan yang ia dapatkan lebih sedikit dari yang seharusnya. Untuk telur jenis lain seperti telur puyuh, bebek, dan telur asin, penjual tersebut tidak bisa berkomentar apapun. Namun untuk telur asin sendiri, beliau menerangkan bahwa harga yang dipatok adalah 10.000 per tiga biji. Lebih murah 500 dari harga yang sebelumnya. Sementara untuk telur bebek dihargai 3500 rupiah per satu telur.
Sementara untuk harga daging ayam, ikan dan sapi, tidak mengalami perubahan yang tinggi. Ayam broiler masih dengan harga yang sama yaitu sekitar 35000 sekilo sementara harga ikan dipatok sekitar 32000 sekilo.
Bahan-bahan pokok lain seperti minyak, bawang, gula, garam, dan beras tidak mengalami perubahan apapun dari segi harga.
Kenaikan harga cabe rawit dan penurunan harga telur ayam tidak bisa di prediksi oleh para penjual sampai kapan. Namun para penjual dan pembeli mengaku yakin penurunan harga ini akan berubah di waktu yang akan datang. Apalagi cabe rawit yang melihat perubahan iklim yang terjadi antara bulan februari dan Maret.