
BANDUNG, (GN)-Mengikuti trend zaman sekarang, beberapa pengusaha mengeluarkan modal selangit untuk menerapkan tema Retro di kafe mereka. Namun hal itu tidak berlaku di kafe Trotoart.
Daripada mengeluarkan setumpuk uang, Kafe sekaligus Beer House ini lebih memilih untuk memanfaatkan barang-barang rongsokan sebagai bahan Retro mereka.
Jangan aneh ketika melihat meja-meja yang hanya dari onggokan batang kayu yang di belah, kursi-kursi bis bekas diambil sebagai tempat duduk para pelanggan, dan menu yang dibuat dari selembar kertas kardus biasa.
Kumpulan bantal berlubang, motor salju rongsokan tua, kompor karatan, sepeda rusak, kursi bekas bis, lampu pecah, telefon kusam, motor tentara, bahkan sampai lukisan kusam sang Ratu Hijau Parahyangan digunakan sebagai bahan dekorasi kafe tersebut.

Ginny Pallencaoe(52), istri dari pemilik usaha kafe itu berkata ia tidak pernah mengeluarkan sepeser pun untuk membeli semua barang itu. Malah, dari awal barang-barang itu memang ia dan suaminya sudah miliki sejak masa silam dulu.
“Saya enggak modal sama sekali. Ini semua barang yang saya keluarkan dari rumah saya.”
“Waktu itu suami saya lempar-lempar semua barang keluar.”
Ginny juga tidak mau repot-repot membeli cat hanya untuk menutupi bata-bata merah di bangunan kafe itu.

“Orang-orang kan bilang ini seni. Jadi ngapain cape-cape keluar uang buat di cat segala?” kata ibu sekaligus seorang penari adat tersebut dengan tegas.
Meskipun ia tidak mengeluarkan modal sama sekali, Ginny memang mengaku harus bersusah payah agar bisa menciptakan ruangan yang berkelas muda dan terlihat nyaman.
Wanita keturunan Belanda itu awalnya harus memilah mana saja barang yang masih bisa digunakan, dan yang hanya bisa digunakan sebagai pajangan.
“Orang-orang enggak protes ko. Karena saya enggak asal dekorasi.”
Barang rongsokan seperti ban bekas, kursi bis, bantal bolong, lampu jaman dahulu, sampai meja kayu tua digunakan sebagai peralatan pada kafe yang berada di jalan Cisitu Lama Dago, kota Bandung tersebut.

Sementara hiasan dekorasi, Ginny memilih memamerkan motor salju tua nya, lukisan Nyi Roro Kidul, mesin cuci model 90-an, kompor jaman dahulu, sepeda Retro, hingga teko dan telepon antik untuk toko nya.
Ditambah lagi, karena Ginny tidak punya barang yang dapat digunakan sebagai pintu, menjadikan kafe Trotoart buka setiap saat.

“Karena enggak punya pintu, ya bagaimana mau tutup?”
Meskipun semua barang yang menyelimuti kafe itu sebagian sudah tertutupi oleh karat, namun anehnya, justru itulah yang menjadi ciri khas dan alasan sebagian orang senang mampir ke tempat itu. Bahkan sebagian pengunjung mengaku telah menjadikan kafe itu sebagai tempat abadi untuk berkumpul dengan teman-temannya. (Ghina)